SAMPANG – Pemandangan berbeda terlihat di halaman SMA 2 Sampang belakangan ini. Jika biasanya para siswa sibuk menunduk menatap layar ponsel saat jam istirahat, kini suasana riuh rendah justru datang dari gelak tawa siswa yang asyik bermain gobak sodor, egrang, dakon, hingga lompat tali.
Langkah ini merupakan inisiatif kreatif dari pihak sekolah untuk mempopulerkan kembali permainan tradisional sebagai strategi utama dalam program pembatasan penggunaan gadget di lingkungan pendidikan.
Kembalikan Interaksi Sosial yang Nyata
Kepala Sekolah SMA 2 Sampang menyampaikan bahwa kebijakan ini diambil untuk mengurangi dampak negatif ketergantungan gawai yang membuat siswa cenderung individualis. Dengan membawa kembali permainan tradisional ke area sekolah, siswa diajak untuk bergerak aktif secara fisik dan menjalin komunikasi langsung dengan teman sejawatnya.

“Kami ingin siswa kembali merasakan asyiknya berinteraksi tanpa sekat layar digital. Permainan tradisional bukan hanya soal hiburan, tapi juga melatih sportivitas, kerja sama tim, dan ketangkasan fisik yang tidak didapatkan dari game online,” ujarnya.
Fasilitas Permainan di Sudut Sekolah
Pihak sekolah telah menyediakan berbagai sarana permainan tradisional yang bisa diakses bebas oleh siswa saat jam istirahat. Beberapa poin utama dari gerakan ini meliputi:
- Penyediaan Alat: mulai dari bakiak raksasa, egrang bambu, hingga papan dakon yang ditempatkan di titik-titik strategis.
- Zona Bebas Gadget: area khusus di mana siswa diimbau untuk benar-benar meletakkan ponsel mereka dan berbaur dalam permainan.
- Kompetisi Antar-Kelas: untuk meningkatkan antusiasme, sekolah berencana menggelar turnamen permainan tradisional secara berkala.
Respon Positif dari Siswa dan Orang Tua
Inisiatif ini pun disambut baik oleh para siswa. Salah satu siswa kelas XI mengaku awalnya merasa canggung, namun lama-kelamaan merasa lebih segar dan tidak lagi merasa “wajib” mengecek ponsel setiap menit.
“Awalnya aneh karena sudah terbiasa main HP. Tapi pas coba main bakiak bareng teman-teman, ternyata seru banget. Capeknya dapet, tapi ketawanya juga lebih puas daripada main game sendiri,” ungkapnya.
Di sisi lain, para orang tua juga memberikan apresiasi tinggi. Mereka berharap gerakan di SMA 2 Sampang ini bisa menjadi pelopor bagi sekolah-sekolah lain di Madura untuk menekan angka kecanduan gadget pada remaja sekaligus melestarikan budaya lokal yang mulai luntur.

Leave a Reply